Suasana Jakarta di Jumat pagi. Bukan macetnya, tapi lihat awannya!
Semesta menjadi kooperatif ketika kita tidak bawel menuntut apapun darinya. Setidaknya menurut saya. Sama hal nya dengan Pak Fotokopi (sebutan untuk petugas fotokopi di sekolah saya dulu) yang tidak bersungut-sungut--meskipun memang tidak pernah tersenyum sebelumnya--ketika kami, para siswa, mengutarakan detil keinginan kami dengan singkat, padat, dan jelas. Atau seperti pelayan restoran yang--menurut legenda urban--akan meludahi makanan ketika kita komplain karena makanan yang kita pesan bermasalah. Jadi alih-alih mengganti dengan yang baru, konon sang pelayan hanya akan membawa makanan tersebut ke dapur, meludahi makanan tersebut, dan mengantarkan kembali ke meja kita. Tapi itu cerita yang beredar dari mulut ke mulut
lho, saya sendiri belum pernah memergoki langsung.
Kembali ke masalah semesta yang kooperatif tadi. Sampai saat saya menulis jurnal ini, Jumat minggu ketiga April ini berjalan dengan lucu. Lucu? Ya, lucu dalam arti sebenarnya, sehingga membentuk garis melengkung serupa 'U' di wajah. Lucu karena memang lucu, dan lucu karena ironis. Sebelumnya memang tidak ada pengharapan khusus sejak saya membuka mata tadi pagi.
Seperti hari-hari sebelumnya, saya berangkat dari rumah sekitar jam sembilan pagi. Ini penghinaan terhadap mesin absen. Saya sadar itu. Tapi memaksa seorang jurnalis untuk memiliki jam kantor
saklek layaknya orang-orang kantoran lainnya, terdengar seperti sebuah penghinaan juga bukan?
Masa' kalah dengan PNS yang jam kerjanya lebih fleksibel dari rambu dilarang lewat?
Seperti hari-hari sebelumnya,
perjalanan menuju kantor dengan rute Kelapa Gading-Thamrin lewat Pulomas dan Pramuka banyak sekali kejadian yang jika diperhatikan sebenarnya menarik. Salah satunya adalah seorang laki-laki yang kencing di pinggir jalan. Tepatnya di dekat kolam renang umum Tirtamas, Pulomas. Kalau supir bus atau supir taksi yang seperti itu mungkin akan menjadi hal yang lumrah, meskipun kencing di pinggir jalan tetap tidak bisa ditolerir. Selain bau pesing, bagi orang yang tak sengaja melihat--apalagi perempuan--akan terasa seperti sebuah kesialan. Sama halnya dengan saya, yang pagi tadi secara tidak sengaja melihat laki-laki berkemeja batik dan bercelana bahan tersebut turun dari mobil sekelas CRV. Dari penampilannya jelas ia bukan seorang supir. Entah apa yang ada di pikirannya. Apakah ia sebegitu
kebeletnya sampai harus turun dari mobil dan memelorotkan tak hanya celana tapi juga harga diri? Apapun itu, ia tetap menyumbang sepersekian persen cairan yang keluar dari tubuhnya dan lantas akan menguap dan kembali turun sebagai air hujan. Seperti yang pernah ditulis Seno Gumira Ajidarma dalam kumpulan essay-nya,
Affair: Obrolan Tentang Jakarta.Kejadian lucu lainnya ketika menjelang magrib--dan itu berarti saat-saat nonproduktif di kantor--saya mendapat sebuah kiriman
link dari seorang teman melalui twitter, yang berisi kompilasi komentar para komentator sepakbola lokal kita. Ada sekitar 40 komentar yang dikumpulkan, itu berarti setara dengan 30 menit saya terbahak-bahak di depan monitor, membelakangi teman-teman yang sedang asik tanding
Winning Eleven. Kebetulan yang sempurna bukan? Alhasil mereka pun minta saya membacakan beberapa contoh komentar absurd yang saya maksud, karena penasaran dengan kelakuan saya yang tak kalah absurd sedari tadi. Soalnya saya bukan penggemar sepakbola, tapi bisa terbahak-bahak hanya dengan membaca kumpulan komentar para komentator. Oke, agar tak terus-terusan dianggap absurd, berikut beberapa contoh komentar yang saya dapat dari Kaskus, hasil kiriman teman saya tadi.
"Tendangan setengah pisang" atau "Tendangan setengah salto".
"Tendangan selamat ulangtahun daru Roman Chmelo untuk Markus Horison!"
"Dia senang sekali setelah menjebol gawang istrinya, sekarang ia juga menjebol gawang lapangan bola!" (mengomentari Eka Ramdani yang saat itu baru menikah)
"Gerakan fantastis dari Boas Salossa, bung!" (padahal cuma sprint)
"Kita lihat Colly Misrun membawa bola, aah..lagi-lagi Colly kembali otak-atik bola dia, aahhh... keluar!"
"Peluang yang sangat emas baru saja diciptakan oleh Roman Chmelo!"
"Budi membawa bola....bola membawa budi ...dan akhirnyaa!!!"
"Tendangan Samsul tadi tampaknya dapat membahayakan penerbangan domestik!"
"Dan yaaahh... tendangannya menukik tajam bagai ranting patah!"
" Ini dia bung pemain persib, Cucu Hidayat yang juga merupakan cucu dari neneknya .."
Lalu kalau nanti Cucu Hidayat berhasil mencetak gol, komentator akan menyeletuk:
"Gol dari Cucu Hidayat pasti membuat bangga neneknya, sodara-sodara!!"
"Ya, sekarang Budi membawa bola.. menggiring ke kotak penalti... Oooww..melewati satu pemain, dua pemain.... dioper kepada Bambang yang kosong.. Bambang shoot, dan..........GOOOLLLL....kami kira..... Bola ternyata OUT pemirsa..." (Hahaha)
Saya memang bukan penggemar bola yang mendengar langsung kicauan para komentator saat siaran pertandingan, tapi sumpah saya
nggak bohong. Kalau masih
nggak percaya, silakan buktikan sendiri di
sini.
Beres melemaskan rahang yang pegal karena puas tertawa tadi, secara tidak sengaja saya terdampar di blog lama milik seorang teman. Beda majalah, tapi satu lantai dan ruangan kami bersebelahan. Namanya Gembi, panjangnya, Gembira Putra Agam. Laki-laki berdarah Aceh ini seorang vegetarian juga. Ehm, oke, sepertinya penggunaan kata
juga tadi agak kurang tepat. Yang benar, sama seperti saya dulu. Tapi sejak setahun lalu saya--secara perlahan tapi pasti--saya menanggalkan status tersebut.
Thanks to you, 'man at his best'!
Di blog-nya tersebut, Gembi menulis tentang macam-macam Mulai dari proyek musik, kekagumannya dengan Afrizal Malna, puisi-puisi berbahasa aneh yang didedikasikan untuk pacar dan sahabatnya, sampai diskusi eklektik antarteman. Sampai akhirnya saya menemukan tulisan yang berjudul
Beginilah Barthesian dan Derridian Berdialog. Sebagai seorang mantan mahasiswa yang skripsinya menggunakan analisis semiotika dari perspektif Roland Barthes, judul tulisan ini sangat menggoda. Apalagi Gembi membuat intro yang begitu 'provokatif'. Akhirnya semua terjawab ketika saya tuntas membaca paragraf pembuka ini, dan masuk ke bagian percakapan yang dibuat ala Yahoo! Messenger.
.....dan saya menyesal. Sangat.
Tanpa ampun Gembi meluluhlantakkan kesok-tahuan saya akan dua tokoh posmo tadi. Bukan dialog bernas tentang teori-teori dahsyat mereka, tapi justru percapakan antara dua remaja lah yang keluar. Lengkap dengan teknik penulisannya, gabungan huruf besar-kecil dan huruf-angka! Obrolan dibuka sastrawanlucu (nickname Gembi) dengan pertanyaan "d4H maM lum?!" yang kemudian dibalas oleh apiaira (nickname Garna Apiaira, teman Gembi) dengan jawaban "q dAh tD? u?" Dan dialog-dialog semacam itulah yang ada di sepanjang sisa tulisan ini.
Sialan.
Kalau di awal tulisan tadi saya bilang bahwa Jumat ini sepertinya semesta kooperatif untuk menyempurnakan akhir pekan, ternyata saya salah besar. Semesta bersekongkol untuk menipu saya. Menipu bahwa tampilan awal (luar) ternyata tak harus sinkron dengan isinya. Pemilik mobil mewah tadi saya kira masih beradab dan cari pom bensin terdekat untuk kencing. Ternyata tidak. Saya kira para komentator tadi selalu serius menanggapi setiap pertandingan sepakbola dengan kalimat-kalimat teknis. Ternyata tidak. Dan terakhir, saya kira orang seperti Gembi yang penampilan dari luar terlihat kaku dan ketika mengobrol soal sastra begitu antusias, akan seperti itu pula tulisan-tulisannya. Ternyata tidak.
Jumat di minggu ke tiga di bulan April ini, saya kalah telak. Dengan caranya sendiri, semesta menang. Dan dalam kemenangannya, semesta masih mengizinkan saya untuk bisa tertawa puas di Jumat ini. Mungkin karena dari awal saya menjadi 'anak baik' dengan tidak menuntut apa-apa darinya.
Skor final, 3-0 untuk semesta, tawa puas untuk saya.